Catetan Cinta Friendzone #2 (Gadis Bekacamata Frame Merah Jambu)

/
0 Comments




Gadis Berkacamata Frame Merah Jambu

          “Haii..!!” sapa seorang gadis membuyarkan lamunannya. Masih pagi, sekolah masih sepi. Tak biasanya Togar datang ke sekolah secepat ini.

          “Eh, hai..” sahut Togar dengan ekspresi anehnya yg khas, namun kemudian menyematkan senyum kecil karena suara itu tak asing baginya.

          Mereka biasa berangkat ke sekolah bersama. Kadang Luna dijemput oleh Togar, kadang-kadang gadis itu yg menjemput. Tentu saja sesuai dengan kesepakatan yg telah mereka runding melalui SMS, atau siapapun salah satu diantara mereka yg merasa bangun lebih awal akan menjemput. Tak jarang juga mereka berpapasan di jalan ketika hendak menjemput satu sama lain.

          Tapi akhir-akhir ini?

          Akhir-akhir ini (ketika Luna mendingin, menjaga sikap atau bisa disebut ‘berubah’) tetap saja mereka berangkat bersama. Namun kali ini lebih sering Luna yg menjemput, tanpa dirundingkan melalui SMS atau telepon. Ketika di atas roda dua juga tak banyak kata yg terbentuk dari lidah keduanya, bungkam. Bagaimana tidak, setiap kali Togar memulai percakapan tak pernah ada tanggapan dari gadis itu. Tentu saja Luna tidak mendengar karena ia sedang melamun, togar yg tidak mengerti hal itu merasa terabaikan. Sedikit sensitif.

          “kenapa berangkat duluan, ada urusan-kah sampai tak sempat menungguku?” tanya Luna sembari mengambil posisi duduk di sebalahnya.

          Mereka duduk di buritan kelas, menghadap ke parkiran di bawah pohon waru yg lumayan rindang, satu-persatu anak berseragam putih abu-abu mulai berdatangan memenuhi tempat parkiran itu.

          “ah, tidak. Sesekali berangkat cepat tak salah kan??” jawabnya sambil melirik ke arah Luna. Semua tampak normal, seolah tak pernah terjadi kerisauan hati dan semrawut pikiran yg telah menggaduhi otaknya semalam.

          Luna berusaha memastikan lelaki disebelahnya itu baik-baik saja, dipandanginya lekat-lekat seolah mencari celah pada diri lelaki itu. Tak ada hasil, ia tak menemukan sesuatu yg menjadikan alasan kenapa Togar tak menunggunya pagi ini.

          Memang sejuk telaga itu, ini lah telaga yg mampu mendinginkan hati Togar walau tengah menghadapi kobar api masalah sekalipun. Dari dulu ia tak pernah ingin berpaling walau sekejappun dari pandangan teduh bulatan bening nan-indah itu. Dipandanginya terus hingga Luna menyunggingkan senyum.

          “Hmm.. masih marah, ya.?” tanya pemilik mata indah itu dengan hati-hati.

          “enggak. Lha kenapa harus marah?” balasnya balik bertanya. Pertanyaan bodoh.

          “aku tahu kamu marah, kamu pasti kesal dengan sikapku yg akhir-akhir ini.. ah, maafkan aku..” tanpa basa-basi, langsung ke inti persoalan. Luna memang begitu, tidak suka bertele-tele.

          “Togar, aku membutuhkanmu. Apapun yg terjadi, ku harap jangan pernah kau menjauhiku. Maafkan sikapku yg kadang-kadang suka ngeselin enggak jelas gini..” ternyata Luna punya alasan atas semua masalahnya selama ini. Ah, Togar saja yg terlalu cepat menuduhnya dengan tuduhan yg bukan-bukan.

‘Wahai. Kalian juga pasti akan melakukan hal ini jika memiliki posisi yg sama dengannya. Bagaimana mungkin seorang manusia normal bisa terima diperlakukan dingin oleh seseorang yg dicintainya (juga mencintainya) tanpa sebab dan alasan yg jelas. Tentu saja hal itu akan mengundang sejuta pertanyaan dan bahkan tuduhan!’

          Togar menghela nafas yg menyesaki dadanya itu, dilepaskannya perlahan agar gadis itu tak mendengar dengusannya. “ya..” jawabnya singkat. Aku juga membutuhkanmu. Aku hanya ingin selalu bersamamu, andai kau tahu itu Luna.. dan andaikan ia juga tahu yg dirasakan oleh gadis itu.

          Hilang sudah resah hati yg kemaren nyaris membuatnya gila, namun masih menjadi misteri baginya; kenapa sahabat sekaligus cintanya yg biasa ceria itu akhir-akhir ini tampak berubah dan seperti tengah menyimpan kemurungan(?).

***

          BEL masuk berbunyi, semua anak yg masih diluar bergegas dan mempercepat langkah kaki menuju kelasnya masing-masing. Tak terkecuali Togar, diulurkannya tangannya dan membantu Luna untuk berdiri dan meninggalkan buritan kelas yg disana mereka sering habiskan waktu berdua.

          Dari jauh terlihat seorang gadis setengah berlari menuju deretan ruang kelas XI. Tiba-tiba.. Braakk..!!   semua lembaran kertas dan buku yg dipegang oleh gadis berambut hitam panjang itu berserak ke lantai. Luna yg tertabrak juga nyaris terjatuh.

          Tak langsung dikumpulkannya buku-buku dan kertas HVS yg berserakan itu, tangannya langsung meraih kacamata yg juga ikut terjatuh. Dengan hati-hati dipasangnya kacamata dengan frame berwarna merah jambu itu.

          “Ma.. maaf kak..” ucapnya sembari menundukkan kepala ke arah Togar dan Luna.

          Luna membantu gadis itu berdiri sementara Togar mengambil buku yg masih berserakan dilantai dan kemudian memberikannya kepada gadis berkacamata itu.

          “ini bukumu, lain kali hati-hati ya..” ucap Togar sambil menyodorkannya kepada gadis itu. Gadis itu gugup, mungkin ia masih merasa bersalah karena berjalan terlalu buru-buru bak rusa yg dikejar pemburu.

          “eh, iya kak Togar.. Ariandi.. Tobing..” jawab gadis itu masih dengan menundukkan kepalanya sembari melirik takut-takut kearah nama yg tertulis di bagian dada sebelah kanan seragam Togar. “Maaf ya kak..” ucapnya kembali ke Luna yg berdiri tepat di sebelah kirinya, Luna menyunggingkan senyum dan mengangguk kecil.

          Gadis berkacamata itu kemudian berlalu dengan berlari kecil, ternyata guru Fisikanya telah menunggu di depan kelas. Maklum, ibu guru yg satu ini memang terkenal sangat killer dan ditakuti oleh banyak siswa-siswi SMAN ** kota Solok itu.

          “kayak baru lihat, bukan orang sini kan?” ucap Togar sembari melirik Luna.

          “iya, cantik juga ya. Kayaknya itu anak baru yg masuk minggu lalu deh..” jawab Luna. “eh, aku duluan..!!” sambungnya sambil melambaikan tangan berjalan menuju kelasnya XII IPA 2, sedangkan Togar terus berjalan menuju kelasnya, XII IPS 1.

***

          “Jangan terlalu sering melamun nona cantik..” tegur seorang lelaki dengan perawakan canggung membuyarkan lamunannya. Akhir-akhir ini Luna memang sering menghabiskan waktu dengan melamun. Contohnya saat ini, padahal tujuan utamanya duduk di belakang kelas adalah menghapal rumus kimia dengan istilah-istilah rumit didalamnya (nanti siang ada responsi mingguan, siapa saja yg tidak bisa menjawab akan disuruh berdiri didepan kelas dengan memegang telinga menggunakan tangan yg menyilang sampai jam pelajaran Kimia itu berakhir), namun setelah dibacanya sebaris-dua baris-tiga baris tiba-tiba saja bayang ayah, masalalu dan ‘akibat’ dimasa yg akan datang memenuhi ruang mata dan otaknya.

          “eh, Togar..” jawabnya spontan.

          “aku bukan Togar..” jawab pemilik suara yg tak asing baginya itu dengan nada kecewa. Agak sensitif.

          “iya. Eh, iya Zudin” jawabnya kikuk. Sebenarnya Luna sangat malu, namun ia berusaha mengontrol diri dan menyembunyikan rasa malu akibat tingkah bodohnya barusan.

          “kenapa hanya lelaki sialan itu saja yg ada difikiranmu..!!” panas hatinya, kenapa harus didengarnya lagi nama lelaki itu dari mulut Luna. Sebesar itu kah perhatiannya terhadap Togar hingga hanya nama lelaki itu saja yg mengisi otaknya?

          Sejak lama Zudin mengharapkan cinta Luna, namun tak pernaha ada sedikitpun respon atau umpan balik dari gadis itu. Tak sedikit wanita yg juga tertarik padanya, namun entah kenapa hanya Luna-lah yg indah di matanya. Ya, Luna memang selalu menjadi yg terindah di matanya.

          “Jaga bicaramu, kamu tak lebih baik darinya..!!” gadis itu tidak bisa terima atas perkataan Zudin barusan.

          Siapa sih yg tak tahu dengan Zudin Efendi, wakil ketua OSIS sekaligus kapten Basket kebanggaan SMAN ** kota Solok itu. Tubuhnya yg tinggi, jago basket, juga merupakan salah satu personil band favorite daerah, dan..  dan tentu saja banyak gadis yg tergila-gila kepadanya.

          “Apa yg kamu lihat darinya, lebih kah dia dariku. Kurang kah aku dimatamu.?” Masih dengan raut kusut. Zudin masih belum mengerti kenapa begitu sulit untuk mendapatkan perhatian gadis yg satu ini. Jika di bandingkan dengan Togar, jelas ia menang banyak.

’Wahai. Kalian juga harus tahu bahwa keelokan paras bukanlah tolak ukur atas segalanya. Tuhan itu maha adil, dengan keadilannya diciptakannya lah CINTA yg dengan kekuatannya bisa membutakan mata, membekukan hati dan memungkinkan segala sesuatu terjadi. Oleh kekuatan itu jua lah tangan Tuhan mempersatukan si kaya dengan si miskin, si cantik dan si buruk, seorang pejabat dengan gadis desa dan lain sebagainya yg intinya tanpa memandang paras,  status dan kelas..’

          “Enyah lah dari sini.. Aku tak ingin melihatmu!!” wajah merona itu berubah menjadi kemerahan, menyala terbakar oleh api amarah. Tatapannya tajam. Menghujam.

          Semakin marah wajah gadis itu semakin mempesona, walau sedang bagaimanapun gadis itu tetap sempurna dimatanya. Kini ia bingung mengekspresikan perasaannya, antara kesal dan kagum dengan keindahan yg terpancar dihadapannya itu.

          Akhirnya Zudin mengalah, ia tahu jika menanggapi kemarahan gadis keras kepala yg satu ini sama halnya dengan menghadapi seekor induk singa yg tengah menjaga anak-anaknya. Keras kepala dan siap mengaum dengan bengisnya. Lebih baik mengalah, mengalah bukan berarti kalah. Masih banyak kesempatan lain, tentu saja akan dilakukannya dengan cara lain pula.

          “Sampai kapanpun aku takkan pernahberhenti Luna..!!” serunya sambil berdiri dan akhirnya berbalik, Zudin meninggalkannya sendirian.

          Gadis itu sama sekali tak menoleh seolah tak mendengar, ia berpura-pura sibuk dengan membolak-balik buku yg walaupun tak-dibaca olehnya itu.Sesaat kemudian setelah dirasanya lelaki itu sudah jauh, barulah ia mengangkat kepalanya dan memastikan lelaki itu benar-benar sudah pergi. Dihelanya napas panjang dan dilepaskannya seolah baru saja melepaskan beban yg amat sangat berat.

          Apakah bicaraku barusan terlalu kasar, atau mungkin sikapku selama ini terlalu berlebihan? Sekeping rasa iba mulai tumbuh dihatinya. Bagaimanapun juga Zudin hanyalah lelaki biasa, sama seperti lelaki lain yg mengaguminya. Namun yg dibenci oleh Luna adalah; Kenapa caranya harus begitu? kenapa sifatnya begitu kasar? Kenapa dia begitu angkuh?

          Harusnya sikapku tak perlu berlebihan begitu kepadanya. Ah, ada-ada saja yg bikin pusing.. keluhnya sambil berdiri dan kemudian masuk kedalam kelas.


***


You may also like

Tidak ada komentar:

POSTINGAN MENARIK LAINNYA

EDY SUTERA JAYA. Diberdayakan oleh Blogger.