Luka Tak Berdarah

            Sore 20 menit sebelum jam pulang, seluruh anak kelas XII dikumpulkan di lapangan. Kali ini ada pengumuman, ya tentu saja khusus untuk anak kelas XII. Pak Lukman membuka pembicaraan.

          “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.. Selamat sore anak-anak, cuma sekedar mengingatkan kembali bahwa minggu depan kita akan mengadakan study tour. Seluruh anak IPS akan ke Jakarta, bandung dan Yogyakarta, sedangkan dua hari setelahnya akan disusul oleh anak IPA yg didampingi oleh bu Juhaini dan kawan-kawan. Jadi persiapkan segala keperluan dan perlengkapan yg sudah tertera pada list barang yg harus dibawa. Jangan ada yg tertinggal..!!” intonasinya cukup jelas, suaranya yg memang keras ditambah lagi dengan pengeras suara sehingga tak ada kata atau kalimat yg terdengar rancu.

          “Dan satu lagi, anak IPS akan didampingi oleh saya sendiri beserta teman-teman. Saya harap kalian semua dapat menikmati perjalan ini dan mendapatkan pelajaran yg berharga di dalamnya. Sekali lagi, untuk melancarkan perjalanan, tolong seluruh peraturan dipatuhi. Terimakasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabaraakatuh..!!” pak Lukman menutup pengumuman dan seluruh siswa-siswi dibubarkan.

***

          “Bagaimana keadaan Fitria bun.??” Sapanya kepada ibu Fitria saat ia mampir sewaktu pulang sekolah.

          “entah lah nak,” kepalanya tertunduk, ia tak tahu apa yg terjadi dengan putri kesayangannya itu. “dia tak mau makan. Coba nak Gina lihat dulu sebentar. Bujuk dia ya nak..” lanjutnya penuh harap.

          “iya bundo, Gina coba lihat dulu.. permisi bun..” sambil berjalan menaiki setiap anak tangga ke lantai dua, menuju kamar Fitria. 

          Dihelanya perlahan napas dari hidung kemudian kembali dikeluarkannya dari hidung pula, mengatur nafas dan akhirnya mengetuk pintu kamar sahabatnya itu. Tok.. tok.. tok..!!  “Fitri.. ini saya, Gina..” harusnya ia tak perlu menyebut namanya, tentu saja Fitria sangat mengenali suaranya itu. “boleh saya masuk..??” sambungnya.

          “iya..!!” sahut Fitria dari balik daun pintu itu. Suaranya agak serak, mungkin karena seharian belum sepatah kata pun yg keluar dari pita suara itu. Gina masuk dan duduk di sampingnya yg juga duduk di pinggir ranjangnya itu.

          “tadi kita dapat tugas kelompok dari ibu Rahma, disuruh ngerjain studi kasus yg ada pada halaman 89..” ya, mungkin ini awal percakapan yg baik. Dimulai dengan basa-basi. “tentu saja kita sekelompok. Aku, Rina, Awan dan Umar..” dan ia baru sadar kalau Fitria sedang tidak memperhatikannya.

          “tadi kelompoknya enggak ditentuin sama ibunya sih, jadi kami sepakat deh masukin kamu kedalam kelompok. Tentu saja karena kamu jago pelajaran Kimia, hehehe..” ah, biarkan saja. Ia tak peduli meski Fitria tak menanggapi ceritanya barusan. “kamu sudah makan..??” lanjutnya.

          Fitria menggeleng, “lho, kok belum..??” setengah kaget, Gina seolah tidak tahu-menahu masalah temannya yg sedang mogok makan itu. Sayangnya Fitria tak peduli. “sejak tadi pagi belum makan..!?” ekspresi Gina masih dibuat seolah tak percaya. Fitria mengangguk. “wah.. kok belum..?? yaudah, kamu makan dulu ya.. biar ku ambilkan nasinya..” ia berdiri dan meninggalkan Fitria di kamar sendiri.

          Bundo yg sedari tadi menguping dibalik daun pintu segera bergegas ke dapur mengambilkan makanan untuk putri kesayangannya itu. Belum sempat Gina berkata apa-apa bundo sudah memberikannya sepiring nasi, “terimakasih nak, kami dari tadi pagi sudah lelah membujuknya untuk makan..” dengan menyematkan senyum, senyum khas seorang ibu.

          “iya bun, Gina masuk lagi ya..” sambil mengangkat sepiring nasi dan segelas mineral, membalas seyum bundo.

***

          “emm, mulai minggu depan dan seminggu kedepannya sekolah kita akan sepi..” matanya tetap fokus kepada sendok dan mendekatkannya ke mulut Fitria. “kau tahu kenapa.??” Ia berharap gadis itu akan menjawab ‘tidak’, sayangnya Fitria hanya menggeleng. Tak masalah, yg penting masih ada feed back. “karena semua anak kelas XII akan berangkat study tour ke jakarta, bandung dan Jogja..” sambungnya.

          “eh, bagaimana dengan tanganmu.?” Telunjuk Gina menunjuk sikut sebelah kiri Fitria yg masih dibalut perban. “masih sakit..??” sambungnya, gadis itu hanya mengangguk.

          “kamu sudah minum obat kan.??” untuk yg kesekian kalinya ia bertanya, ia tak peduli meskipun hanya menerima jawaban berupa anggukan dan geleng dari gadis itu. Lagi-lagi Fitria menggeleng. “astaga... kenapa belum.?? Yasudah, kamu minum obat dulu ya..” diletakkannya piring yg separuh isinya sudah masuk ke perut Fitria itu ke atas meja (tentu saja Fitria lapar, sejak tadi pagi belum sesuap makanan pun yg masuk ke perutnya) dan mengambil obat yg juga terletak diatas meja yg sama.

          Gina mengambil dua butir pil yg berbeda dan menyodorkannya kepada Fitria dengan segelas mineral, tentu saja ia tak perlu membantu gadis itu untuk meneguk 2 butir pil tersebut. “nah, minum lah..” sambungnya.

          “ih.. rambutmu kok berantakan gitu sih.. jelek tau..” lanjutnya sambil meraih cangkir yg nyaris kosong itu dari tangan Fitria. Gina mengambil sisir yg ada di meja rias, kemudian mendekati Fitria yg masih duduk mematung di pinggir ranjang.

          Di sisirnya rambut sahabatnya itu, satu kali, dua kali, tiga kali, tangan kanannya membenarkan poni Fitria dan, “ASTAGAA..!!” Gina tersentak kaget setelah merasakan panas dari kening sahabatnya itu. “kamu demam ya..??” sebenarnya tak perlu ditanyakannya hal itu, tentu saja jawabannya tetap satu. Iya.

***

          Fisik memang erat hubungannya dengan otak, setiap organ dari tubuh manusia bekerja atas perintah otak. Begitu juga dengan keadaan Fitria saat ini, otaknya sedang kusut sedangkan hatinya terbakar api cemburu. Tentu saja hal itu berpengaruh buruk terhadap fisik. Menurunkun selera makan sehingga menjadikan fisiknya semakin lemah.

          Sebenarnya ingin rasanya ia pergi ke sekolah, tapi karena moodnya sedang buruk ditambah lagi fisiknya yg lemah menjadikannya mengurungkan niat tersebut. Ia berfikir buat apa ke sekolah jika ujung-ujungnya hanya melamun sedang fisiknya sedang tak fit, tangan kirinya masih di perban sedang tangan kanannya masih sulit digerakkan karena terkilir.

          Togar terlalu keras menyentak tangan kanannya kemarin. Atau sebaliknya, jika Togar tak melakukan itu ia akan ter serempet oleh tronton tua itu. Ah, tak apa terkilir dibanding terkena serempet benda besar dengan laju bak kilat itu. Apa jadinya kalau seandainya Togar tak menarik lengannya waktu itu, tentu saja kejadian naas akan terjadi.

***

Selanjutya >> Catetan Cinta Friendzone #7




Danau Singkarak dan Sunset

            “APAKAH kau tidak keberatan jika ku ajak lagi ke tempat lain, Togar.??” Suaranya serak, hidungnya masih agak mampet.

          “tentu saja tidak.. akan kemana lagi kita.?” Tak bergeming, matanya menatap fokus kesepanjang jalan. Sudah sore, jalanan lebih ramai dan ia harus lebih berhati-hati dalam urusan ini.

          “ke danau..” dengan mengembangkan senyum, meski ia sadar Togar tak dapat melihat senyumnya itu. Ia tak peduli, “aku ingin melihat danau..” sambungnya lagi.

          “baiklah..” masih tak bergeiming, Togar memang serius daalam urusan mengendarai, ia tak ingin kejadian yg menimpa ayahnya 2 tahun silam terulang kembali. Ayahnya meninggal oleh kecelakaan maut ketika mengendarai sepeda motor saat mengantar adiknya ke sekolah, beruntung saja adiknya yg saat itu terluka parah masih bisa diselamatkan.

          Kini motor Matic buatan Jepang itu meluncur ke Danau Singkarak, merapat dan mencari tempat yg pemiliknya kira paling nyaman. Di kursi kayu dibawah pohon yg tak begitu besar namun rindang. Menghadap ke arah danau, arah dimana mentari akan menutup hari.

***

          “Maafkan aku Togar, aku minta maaf soal sikapku yg akhir-akhir ini.... kuharap kau mengerti..” gadis itu memulai percakapan, rambutnya melambai lembut seirama dengan hembusan angin sore yg mengoyangkan setiap daun pohon yg berdiri disepanjang pinggir danau itu.

          Harusnya aku yg minta maaf, aku salah menuduhmu yg bukan-bukan. Kukira selama ini kau hanya mempermainkanku, memanfaatkanku.. demi tuhan, aku minta maaf Luna.. dahinya berkerut, ia sadar betapa hitam hatinya kemarin. Betapa teganya ia menuduh gadis yg jelas-jelas berhati putih itu dengan tuduhan yg bukan-bukan. Keji. Yaa Tuhan,, ampuni hamba... kini perasaan itu kian menekannya, ia malu dengan dirinya, ia malu dengan Tuhan dan jelas ia malu dengan Luna jika saja gadis itu mengetahui kejadian sebenarnya.

          “aku yg harusnya minta maaf..” jawab togar, ia tak berani menatap kearah Luna. Ia tak kuasa menahan rasa bersalahnya.

          Tentu saja Luna bingung, “atas dasar apa? Bukankah aku yg salah karena telah berusaha menjauh dan memendam masalah ini tanpa memberitaahumu.??” Ia menoleh ke kanan, kearah Togar. Berusaha menemukan jawaban dari tatapan teduh milik lelaki itu.

          “tidak Luna, aku yg salah. Aku telah menuduhmu yg bukan bukan, ku kira kau akan menjauhiku karena kau telah..” dihelanya napas perhana, menoleh kearah gadis itu. Luna menatapnya dengan penuh tanya, “karena kau telah bosan denganku..” kini ia tertunduk,  yaa Tuhan.. ampuni hamba..!! ia sangat malu.

          Bulatan itu kembali berkaca, teganya kau menuduhku seperti itu.. asal kau tahu, walau bagaimanapun keadaanmu dan walau sampai kapanpun tetap hanya kau yg kuharapkan. Tak ada yg lain, Togar.. kantong matanya hampir penuh. Ah, percuma. Kini kantong itu telah penuh. Luber, menetes. Tangis tanpa isak.

          Bukankah dia sudah minta maaf..? Ah, dia telah mengakui kesalahannya. Aku tak boleh marah, dia memang tak salah. Mungkin dia rindu, tentu saja karena aku telah menjauhinya.. Luna berusaha berfikir positif, coba untuk memaafkan lelaki di sebelahnya itu.

          “maafkan aku Luna, tak seharusnya sikapku begitu..” bujuknya sekali lagi, ia mendadak lemah menyaksikan mata gadis itu telah berlinang.

          “kau tak salah. Iya, lupakan saja..” memasang senyum getir, tatapannya sayu dan masih menatap lelaki itu dengan lembut. Tak ada amarah dari tatapan itu.

          Diraihnya tangan Luna, “aku benar-benar menyesal Luna..” sekali lagi ia mengakui kesalahannya.

          Senyum khas itu masih tersemat, “iya, lupakan saja..” balasnya menggenggam erat kedua belah telapak tangan Togar.

          Kepalanya disandarkan dibahu Togar, sehelai-dua helai rambutnya melambai-lambai seirama dengan tiupan angin danau disore itu. Dengan perlahan jemari Togar menyibak rambut Luna, coba merapikannya. Semburat pendar sinar orange yg berbaur dengan warna merah itu menciptakan perpaduan warna yg indah. Jingga. Warna surga yg membuat jutaan insan jatuh hati pada -Nya, warna dari tuhan yg membuat siapapun berdecak kagum saat melihatnya. Kini sinar itu mendarat lembut di kulit wajah kedua muda-mudi yg tenggelam dalam lautan kasih itu.

          Wajah Luna berseri, bersama dengan hatinya. Indahnya garis muka itu, berseri bak wajah dari surga.. Tangan Luna mengusap garis lurus bekas air mata yg telah mengering dipipinya. Tangan itu kini meraih jemari tangan kiri Togar yg menggenggam pinggiran kursi kayu.Togar menoleh kearah pemilik tangan yg menyentuh jemrinya itu. Luna tersenyum. Berbalas senyum. Mereka menatap lurus kearah sumber cahaya nan indah itu, hanyut dan terbuai.  Hingga....

***

          “Ikan hasil tangkapan Da Bahar yg kemarin belum dibayar, pergilah kesana nak. Bawakan uang yg ada di amplop itu..” tunjuk ayah Fitria kearah meja. Gadis yg sedari tadi asik membaca novel karya ‘Buya Hamka’ itu mengangguk, menutup bukunya dan langsung berdiri.

          Apa susah baginya berjalan ke rumah yg dimaksud, rumah pak Bahar, ayah Gina. Berjarak 14 rumah dari rumahnya. Bahkan saban sore ia selalu kesana untuk bermain atau sekedar menemui Gina dan mengajaknya berjalan-jalan di pinggir danau, atau Gina sendiri yg datang menemuinya.

          “iyo ayah..” tangannya meraih amplop itu dan mencium tangan ayahnya, berpamitan untuk keluar.

          “hati-hati dijalan, jangan pulang terlampau sanjo..” nasehat ayahnya, yg dinasehati sudah berada di teras.

          “iyoo Ayaah..!!” jawab gadis itu dengan suara sedikit nyaring, menyesuaikan jaraknya dengan ayah yg berada di dalam rumah.
***
          “Assalamu’alaikum.. Assalamu’alaikum....” ulangnya sambil mengetuk pintu.

          “Wa’alaikumsalam.... Gin..!! Gina..!! ado si Fitri diluar..” setengah berteriak, ibu Gina memanggil putri bungsunya itu kemudian berjalan ke depan untuk membukakan pintu.
          “iyo Mak..!!” jawab yg dipanggil dari kamarnya.

          “eh Amak, ini duit dari ayah. Katanya buat bayar ikan hasil tangkapan Apak yg kemarin..” sapa Fitria sambil menyodorkan amplop titipan ayahnya itu.

          “oh iyo nak, tarimokasih yo..” menyematkan senyum, “Gin...!!  Gina...!!” teriaknya lagi..
          “iyoo.. Amak ini apalah.. heboh nian kayak kedatangan artis saja..” cibir Gina yg ternyata sudah berdiri dibelakangnya.

          “nah ini, Fitri. Fitri adalah artis awak di Ranah ini..” menunjuk kearah Fitria, “oh iyo, Amak sedang masak. Masuk lah nak kamari” ajaknya sembari beranjak dari depan pintu.“Ehh, sudah gosong..!!” ia baru teringat dengan nasi yg ditanaknya setelah mencium bau gosong dari arah dapur.

          “tuh kan.. Amak ini..” sambil geleng-geleng dan menahan tawa melihat tingkah ibunya yg seperti anak kecil itu setengah berlari ke dapur.

          “ada-ada saja Amak ini..” masih dengan gelak geli melihat tingkah ibu-anak itu, “ayo jalan ke danau..!!” ajaknya kepada Gina.

***

          Hingga....

          “Lihatlah Gin, betapa eloknya Nagari kita ini..” tanpa kedip, matanya menyapu pandang ke arah barat, sumber cahaya itu.

          “ya, memang elok.” Mengembangkan seulas senyum. Senyum yg dibuat-buat.
          “kamu kan tahu kalau aku sangat suka senja. Kata bundo....” belum sempat dilanjutkannya kalimat itu.

          “kata bundo kamu lahir di sore hari ketika sunset..” potong Gina, ia tahu betul muara kalimat Fitria barusan.

          “hehe, bukankah itu menarik..??” masih dengan menyengirkan gigi putihnya yg tertata rapi.

          “menurutku biasa saja. Kamu tahu aku lahir saat malam bulan purnama, aku juga suka meihat cahaya bulan, tapi tak begitu berlebihan sepertimu melihat sunset..” tolaknya. Mungkin ia merasa Fitria terlalu berlebihan, atau bosan dengan percakapan yg saban sore hanya bermuara ke warna jingga itu.

          “oh iya..” Fitria teringat sesuatu, “Togar juga sangat suka bulan. Dia juga lahir saat malam bulan purnama. hehe” lanjutnya dengan tersipu. Mata bak biji lecinya berbinar-binar kala menyebut nama lelaki itu. Ya, Togar memang sangat suka dengan cahaya bulan.

          “Eh.. Togar..!!!” setengah kaget, Gina hampir tak percaya dengan yg ia lihat barusan.

          “iya, Togar sangat suka bulan..” ulang Fitria, masih tersipu.

          “bukan..!! itu.. itu Togar..!!” jelasnya. Tangan Gina menunjuk kearah sebuah pohon kecil yg dibawahnya ada kursi kayu panjang.

          “dimana Togar..??” tanya Fitria sedikit bingung.

          “itu..!! bukankah itu Mr.T mu.??” Perjelasnya sambil menunjuk kearah yg sama. Fitria mengikuti arah telunjuknya.

          Ya, itu memang kak Togar.. Motor matic berwarna pink dengan plat nomor   ‘BA5187NF’ itu terparkir disebelah dua orang yg tengah duduk sambil menunjuk kearah danau. Tak salah lagi, Fitria kenal betul dengan motor Mr.Tnya itu.

          Beruntung sekali kak Luna..  ia melihat kepala gadis itu bersandar manja di bahu Togar, sesekali terlihat tangan keduanya bersigenggam. Mesranya.. desah Fitria. Sesak. Dadanya kian menyesak. Sesuatu seperti  menghujam kedalam jantungnya. Hujaman yg keras, menyisakan nganga luka dalam. Kini ia tersedan, menahan agar bola matanya tak berlinang.

          Apa boleh buat, siapa yg kuasa mengendalikan hati. Mata hitam bak biji Leci itu kini telah berlinang, tumpah ruah membasahi pipinya. Matanya mulai berkabut, gelap sudah. Hatinya gelap, pekat seperti kepulan asap bakaran karet. Panas. Itulah cemburu, ‘rasa’ yg bisa menggelapkan segalanya. Rasa yg bisa membakar segalanya.

          Selangkah-dua langkah, perlahan kakinya melangkah mundur. Masih tergugu. Kakinya tersandung batu sebesar buah kelapa dan akhirnya terjatuh. Sikutnya menghantam aspal untuk menahan agar kepalanya tidak terbentur. Permukaan aspal yg kasar bak parutan itu telah berhasil memarut daging yg dibungkus oleh kulit tipisnya dan dari pori-pori keluar tetesan darah segar.

          “Fitria..!!” Gina berteriak. Ia menghampiri Fitria yg terjatuh di pinggir jalan aspal itu. Suara Gina yg lumayan nyaring ternyata telah menarik perhatian sekitarnya. Tentu saja teriakan itu juga terdengar jelas oleh Togar dan Luna yg hanya berjarak 12 meter darinya, sontak keduanya menoleh kearah sumber suara.

          “Awaass Fitriaa..!!” dengan berteriak Togar berdiri melepaskan genggaman tangan Luna dan langsung melompat menghambur kearah gadis yg masih berada di pinggir jalan itu. Togar agak oleng, hampir terjatuh karena menginjak sebuah batu di pinggir danau yg sebesar kepal orang dewasa. Berusaha menyeimbangkan tubuh dan menarik lengan Fitria hingga tersentak dari ujung aspal itu. Sentakan yg keras. Tentu saja sentakan itu mengagetkan Fitria dan membuat tangan lemah gemulainya yg biasa bermanja itu terseleo.

          Triiiitt..!!! triiiittt..!!! triiiiiiittttttt....!!! suara klakson mobil tronton tua, agak serak.Mobil tronton itu melaju dengan kecepatan tinggi dari arah utara. Wuussss.... terpaan angin dari mobil tua itu mengibaskan rambutnya sehingga menjadi berantakan. Tangannya berdebu dan cairan berwarna merah mengalir dari sikut serta punggung tangan sebelah kirinya. Berdarah..

          Fitria berusaha bangkit dan menjauh dari tempat yg nyaris merenggut nyawanya itu dengan terseok. Matanya masih berlinang, berlinang menahan perih. Perih yg dimaksud bukan lah berasal dari goresaan luka di sikut atau punggung lengannya yg lecet terparut aspal, perih yg dirasakannya itu jauh lebih ‘perih’.

          Gina bersitatap dengan Togar, pria itu masih bingung. Kemudian ia beranjak dan mengejar Fitria dari belakang, tak susah baginya mengejar gadis manja yg berusaha berlari cepat itu. “fitri.. Fitria..!!” ditariknya tangan Fitria dan memeluknya. Kini air mata itu tumpah sudah di pundaknya, isak itu dilepaskannya bersama airmata. “ayo kita pulang..” ucap Gina sembari merenggangkan pelukan gadis itu, dibenarkannya rambut gadis manja yg berantakan itu.

          Togar diam mematung, masih tak mengerti apa yg terjadi. Luna yg sedari tadi menyaksikan juga ikut bingung, sebenarnya apa yg terjadi..??

***

          “Aw..!! uh...” desah Fitria saat kain basah yg direndam dengan air hangat itu diusapkan oleh ibunya Gina dengan lembut dan teliti ke area kulit yg lecet dan berdebu.

          “amak, pelan-pelan.. kasihan Fitria..” protes Gina yg sedari tadi tanpa kedip menyaksikan tangan ibunya membersihkan luka gadis manja itu. Tak bergeming, amak menghiraukan perkataan putrinya barusan.

          “tinggal sedikit lagi nak, habis ini kamu mandi ya. amak sudah siapkan air hangat untuk pemandianmu..” matanya tetap fokus terhadap kulit Fitria yg lecet itu, sedang tangannya masih asik dengan lembutnya mengusap-usap darah kering yg menempel bersama debu di kulit Fitria. “sudah..” ucapnya dengan mengembangkan senyum khas yg tulus.

          “ayo mandi tuan putri..” goda Gina kepada sahabatnya itu dengan membimbing Fitria untuk berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.

***

          “Pilih lah baju mana yg kamu suka..” dengan membuka lemari pakaian dan menunjukkannya kepada Fitria yg duduk di pinggiran ranjang.

          “terserah lah Gin, yg mana saja..” Fitria berusaha mengembangkan senyum, agak sulit memang namun senyum itu tetap tersemat walau tak persis seperti senyumnya yg khas.

          “oh iya, aku juga punya baju dengan motif berwarna Orange, sebentar ya..” ia mencari di setiap bilik lemari, berusaha menemukan dress yg dimaksud. “nah.. ini..!!” dengan mengembangkan senyum puas, “kamu pasti suka..!!” ia tahu betul bahwa Fitria sangat suka warna itu, juga perpaduan antara warna Orange dan Merah. Jingga, warna ‘senja’.

          “iya, yg itu saja. cantik nian..” benar saja ia sangat suka dengan dress putih dengan sedikit kombinasi dan motif berwarna Orange pilihan Gina. Ah, Gina memang sahabat yg baik..

          “ini hadiah dari Uda Isal saat ulangtahunku kemarin. Dia pandai memilih, ukurannya sangat pas denganku..” jelasnya sambil berjalan menuju Fitria dan memberikan dress itu.

          Fitria yg tubuhnya masih terbungkus handuk langsung berdiri dan menerima dress itu, “beneran tak apa-apa kan.? Oh iya, besok akan kukembalikan setelah di cuci..” dan dengan hati-hati ia mengenakan dress tersebut dibantu oleh Gina. Agak longgar memang, soalnya tubuh Gina sedikit lebih berisi dari tubuhnya. Ah, tak masalah, yg terpenting ia suka.

          “ya, tak masalah.. tapi kegedean, hehe..” ia sebenarnya malu, tentu saja karena tubuhnya sedikit lebih berisi dari Fitria. Hanya sedikit, tidak begitu jelas jika dilihat sekilas. “setelah makan nanti kamu ku antar pulang ya..” sambungnya.

          “iya, tapi.. a-yah..” ya, ayah pasti marah. Ayah pasti murka melihat putri satu-satunya, putri yg dimanja-manja, putri yg segala permintaannya selalu dipenuhinya, putri yg dibesarkannya dengan cinta dan putri yg menjadi pewaris tunggal hartanya ‘terluka’.

          “tak apa, nanti biar kubantu menjelaskannya..” dengan menyematkan senyum khas, mencoba menenangkan hati sahabatnya itu. “ayo makan..” ajaknya sembari membimbing Fitria berdiri (padahal tanpa dibantu pun gadis itu bisa berdiri dengan sendirinya, inilah salah satu bentuk perhatian tulus yg sesungguhnya) dan berjalan ke dapur.



***

Sebelumya >> Catetan Cinta Friendzone #4
Selanjutya >>  Catetan Cinta Friendzone #6



Ruangan ICU, Saksi Bisu

            SETELAH latihan, mereka meninggalkan lapangan basket kebanggaan sekolah itu. Biasanya mereka akan berkumpul di kantin sekolah dan mencari sesuatu yg dapat menyegarkan tenggorokan atau pengisi perut yg mulai keroncongan.

          “Ayo ke kantin..” ajak Fendri kepada kapten timnya itu.

          “kalian duluan saja..” jawabnya tanpa menoleh, tangannya tengah sibuk membuka sepatu.

          “oh, oke. Kami duluan..” mereka berlalu menuju kantin yg terletak tak jauh dari lapangan basket sekolah. Zudin diam saja, seolah tak mendengar perkataan teman setimnya barusan.

          Ada yg aneh dengan lelaki ini, tidak seperti biasa,, ah, mungkin dia sedang memiliki masalah.. gumam Fendri sambil berlalu.

          Zudin berdiri dan keluar dari lapangan berjalan menuju taman, ia ingin istirahat, fikirannya sedang penat. Entah apa sebabnya dia sendiri-pun tak tahu, yg pasti ia sedang tidak enak fikiran.

          Taman sekolah itu lumayan luas. Banyak pohon Kalpataru yg dibawahnya terdapat kursi panjang tempat para siswa-siswi beristirahat melepaskan penat fikiran yg seharian harus menerima pelajaran yg menguras energi, atau tempat untuk sekedar berkumpul dan diskusi bersama.

          Tak salah sekolah ini mendapat penghargaan sebagai sekolah ter-asri dari mentri pendidikan. Di ibu kota mana ada sekolah dengan hawa sejuk alami seperti ini, bukankah kesejukan yg mereka rasakan murni berasal dari mesin pendingin.. (maksudnya air-conditioner/AC) gumamnya dalam hati. Tangannya merogoh kantong tas berusaha mencari sesuatu. Setelah dirasanya ketemu, dinyalakannya benda berbentuk kotak kecil berwarna putih itu (maksudnya ipod) dan menempelkan earphone ke telinganya. Kini ia mendengarkan lagu Sugar dari Maroon5.

I’m hurtin’ baby, I’m broken down..
I need your lovin’, lovin’ I need it now..
When I’m without ya, I’m something weak..
You got me beggin’, beggin’ I’m on my knees..
I don’t wanna be needin’ your love,
I just wanna be deep in your love,
And it’s killing me when you’re away..
Ooh baby..
‘ Cause I really don’t care where you are,
I just wanna be there where you are,
And I gotta get one little taste..
You sugar, yes please,
Won’t you come and put it down on me..
I’m right here, ‘cause I need,
Little love a little sympathy..
Yeah you show me good lovin’, make it alright..
Need a little sweetness in my live..
You sugar, yes please,
Won’t you come and put it down on me..


          Dihelanya napas perlahan dan dihembuskannya dengan perlahan pula, berusaha tetap tenang. Matanya menoleh ke kanan dan kiri, mencari kursi kosong. Eh, bukankah itu..??  ia meragukan pangelihatannya, dilihatnya sekali lagi untuk memastikan. Ya, itu memang dia..

          Ah, biarkan saja. Mungkin dia masih marah.. Perasaannya masih sungkan. Lain kali saja, mungkin sekarang dia masih marah.. ia berjalan menyeberangi taman tanpa menoleh agar tidak menarik perhatian gadis itu.

***

          “Eh, bukankah yg barusan itu Zudin?” ucap Keke kepada Luna, mereka sedang duduk di kursi panjang taman sekolah.

          “ya, kurasa memang dia. Kenapa?” sebenarnya dia tahu maksud dari pertanyaan saudara sepupunya barusan.

          “em, tidak” ia menoleh kearah Luna, “biasanya dia selalu menyapamu” sambungnya lagi.

          “hm.. iya sih..” sesuatu melintasi fikirannya, kini dadanya berubah menjadi sesak, keping penyesalan di dalam dadanya telah tumbuh kembali. Mengakar. Mungkin dia kecewa kepadaku. Ah, tak sepantasnya sikapku begitu..

          “kalian bertengkar.?” sebenarnya Keke tak yakin untuk menanyakan hal itu, namun rasa penasarannya bertindak lain.

          “tentu saja tidak..” ya, mereka memang tidak bertengkar, hanya saja.. ah, entah apalah itu namanya, yg pasti mereka sedang tidak baikan.

          “hm..” telunjuk Keke mengetuk-ngetuk dagu seolah mencari kata yg cocok untuk dilontarkan selanjutnya. Seolah detektif, ia selalu ingin tahu tentang semuanya.

          “ayo ke kelas, sebentar lagi bel akan berbunyi..” Luna tahu benar sepupunya yg satu ini tak akan berhenti mengoceh, itulah sebabnya ia berusaha mengalihkan. Setidaknya agar gadis itu berhenti bertanya tentang Zudin atau tentang apapun itu.

***

          Suara bel berdentang memecah kesunyian sore itu, sorak-sorai mulai terdengar bersamaan dengan bunyi gaduh. Ya, ini sudah jam 16:04 sore, saatnya para siswa-siswi meninggalkan sekolah dan pulang kerumah masing-masing.

          Pintu gerbang itu mendadak ramai dilalui oleh para siswa-siswi pejalan kaki, mereka berjejer di halte sambil menunggu bus atau angkot atau jemputan atau apalah itu yg bisa mengantarkan mereka kerumah dan meninggalkan sekolah itu. Deru knalpot sepeda motor pun mulai terdengar disana-sini. Ah, sungguh momen yg ditunggu-tunggu, pulang kerumah dan beristirahat. Beristirahat? Tentu saja tidak semua diantara mereka benar-benar beristirahat. Ada yg sepulang sekolah langsung ke danau menangkap ikan atau memberi pakan kepada ikan yg ada di dalam kerambah, ke ladang memanen sayur, mengembalakan sapi atau kambing dan itik, ke sawah, atau kemanapun itu sebagai pengisi agenda rutin di sore hari.

          “Eh, itu dia..” gumam Luna ketika melihat Togar di sudut parkiran, lelaki itu tengah mengenakan sweater nya. Seorang gadis yg tak dikenalinya mendekat kearah Togar. Siapa gadis itu..??

***

          “hai kak Togar, selamat sore..!!” suara itu,sepertinya pernah didengarnya. Tapi dimana?

          “eh, haii..” tentu saja pernah, bahkan sering didengarnya. Lewat telepon. “selamat sore juga dik Fitria..” jawabnya sambil menyunggingkan senyum yg khas. Ini kali pertama mereka bersitatap secara langsung. Manis juga..!!

          “kakak kok pulang duluan, bukannya sore ini ada latihan Pramuka??” ia tahu bahwa Togar adalah anggota pramuka dan merupakan senior yg membina anak-anak baru atau juniornya. Dia juga tahu bahwa Togar merupakan anggota OSIS, juga tahu kalau Togar suka membaca dan masih banyak lagi. Gadis ini banyak tahu karena terlalu sering memperhatikannya.

          “ah, tidak.. hari ini aku ada janji dengan seseorang..” jawabnya sambil mengangkat lengan dan melihat kearah arloji made-in Swiss miliknya. “kamu kok belum pulang..??”

          “lagi nunggu unchu  Ramli kak..” matanya menoleh kearah gerbang. “nah, itu Unchu. Fitri duluan ya kak..” gadis itu berlalu sembari melambaikan tangan dan melemparkan seulas senyum, memang manis senyum gadis molek itu. Senyum yg menyematkan  lesung di atas pipi yg sedikit tembem. Menggemaskan.

          “ya, hati-hati dik..” jawabnya sambil menoleh kearah Fitria, gadis itu semakin jauh. Kini Fitria sudah diseberang jalan, didepan pintu gerbang. Matanya menoleh ke kanan dan kiri, menyempatkan sesaat untuk melemparkan senyum yg sama, tentu saja untuk Mr.Tnya itu.

***

          Siapa gadis itu..?? gumam Luna yg sedari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan. Kini ia berjalan menghampiri Togar, menarik napas panjang dan mengumpulkan tenaga, “HEEEEYYYY....!!!!” pekiknya dari belakang. Gadis itu tahu betul bahwa Togar sangat mudah terkejut,  entah kenapa ia senang sekali melakukan hal itu meskipun tahu bahwa Togar tidak pernah suka.

          “Ehh..!!!!” Togar tersentak ke belakang dan hampir merobohkan motor yg lain. Matanya terbelalak.

          Wajah itulah yg sangat disukai Luna, ia sangat senang melihat ekspresi bingung campur kaget campur takut campur cemas dan campuraduk dari Togar. Tentu saja ekspresi itu membuatnya tertawa geli, kini tawanya meledak dan meninggi menjadi bahak. Tak peduli dengan orang lain yg berlalu-lalang disekitarnya, Luna memang suka tertawa lepas seperti itu.

          “sudah kubilang jangan suka bengong..” masih terkekeh, namun kali ini agak terkontrol.

          Dipandanginya Luna lekat-lekat, sudah lama ia tidak mendengar ledakan tawa seperti itu. Tentu saja karena akhir-akhir ini mereka jarang berjumpa, jarang berbicara dan karena Luna telah ‘berubah’. Togar tersenyum.

          “eh, kenapa senyam-senyum.?? Astagaaa jangan-jangan,,, kamu kesambet..!!” godanya sekali lagi, dia memang suka menggoda Togar seperti itu. Padahal entah kapan ia melihat lelaki itu kesambet. Ah, gadis itu memang suka mengada-ada.

          Aku memang kesambet, hati dan fikiranku tak terkendali jika berada didekatmu. Perasaan yg sama juga muncul saat kau jauh dariku. Andaikan kau tahu itu Luna.. desahnya dalam hati. Ya, andaikan gadis itu tahu.. eh, bukannya Luna sudah tahu?

          “eh eh eh.. malah bengong..!!” seru gadis itu membuyarkan lamunannya. Ah, lagi-lagi Togar melamun.

          “eh, iya. Ayo.!!”sekali lagi ia kaget, kali ini terkendali. Tangannya meraih helm yg tergantung di kaca spion sebelah kiri, diberikannya helm berwarna putih polos itu kepada Luna.

          Ayo..?? kemana..?? ah, tentu saja ke.... bibir Luna melebar, tersenyum.

***

          “sebenarnya kitaakan kemana?” Togar mulai bingung, dari tadi Luna hanya diam. Biasanya gadis itu paling berisik, paling usil mengomentari wanita yg memeluk erat pinggang pacar atau suaminya diatas sepeda motor, seolah sepeda motor itu akan terbang ke langit. Biasanya ia sibuk mengomentari cara berpakaian muda-mudi yg berpapasan dengannya, memaki panas terik serta debu jalanan, membicarakan hal yg tak begitu penting, serta menggoda Togar yg sok serius dengan stang motornya.

          “Luna..!!” sambil membenturkan kepalanya yg dibungkus helm ke kepala Luna yg juga dibungkus oleh helm berwarna putih itu. Benturan itu tentu saja untuk menyadarkan Luna yg tak mendengarkan pertanyaannya barusan.

          “eh, iya..” buyar sudah lamunannya.

          Togar menarik napas perlahan dan melepaskannya perlahan pula, berusaha tetap tenang. “Kita akan kemana..??” ulangnya sekali lagi. Oke, kali ini ia tidak akan ambil pusing atas Luna yg tak mendengarkan pertanyaannya sebelumnya. Sebenarnya kita akan kemana?

          “ke rumahsakit..” agak pelan dan datar.

          “kemana.??” Ulangnya. Bukannya Togar tak yakin dengan yg barusan gadis itu katakan, tapi ia benar-benar tidak dengar dengan jelas.

          “ke rumah sakit..” sekali lagi, kali ini intonasinya agak jelas. Togar mengangguk.
          Ngapain ke rumah sakit.?? Siapa yg sakit.?? Apakah kau sedang sakit Luna.?? Kenapa harus ke rumahsakit.??Pertanyaan semacam itu muncul dibenaknya, tapi tidak untuk kali ini. Dia tidak akan bertanya kenapa gadis itu mengajaknya ke rumah sakit. Ikuti saja..

***

          Langkah kakinya semakin dipercepat, kepalanya tertunduk berjalan terbatah kearah ruangan ICU rumahsakit itu. Tangan kanannya merogoh saku sebelah kanan suiter biru dengan sablon karakter Doraemon, menemukan saputangan yg dicari. Menyeka matanya yg mulai basah. Basah oleh kepedihan, basah oleh kepiluan.

Wahai Maha Pencipta, kenapa kau ciptakan benda yg satu ini, bukankah dengan linangnya semua menjadi lemah? Sekalipun seorang pejabat, pegulat, konglomerat, atau siapapun itu pasti akan terkulai lemah jika benda bulat itu berlinang?

Kenapa kau ciptakan benda itu dekat sekali dengan otak, bukankah otak selalu menyimpan jutaan tragedi dalam memori yg sewaktu-waktu akan muncul di ruang bulatan bening itu? Bukankah tragedi pilu dalam memori akan memperderas tetesan cairan bening itu? Hingga telaga itu tak dapat lagi menampungnya, hingga kepedihan itu tumpah?

Wahai maha Pencipta, kenapa kau ciptakan rasa itu? Rasa yg menyebabkan bulatan bening itu berlinang.. Rasa perih..’

          Togar mengikutinya dari belakang. Sejuta pertanyaan kembali bermunculan di kepalanya, pertanyaan yg bahkan ia sendiri pun tak mengerti. Dari sekianbanyak pertanyaan yg memenuhi benaknya, hanya satu pertanyaan yg mampu menggerakkan bibirnya untuk bergumam “apa yg terjadi.??” Dan pertanyaan itu terlontar begitu saja, entah untuk siapa dan entah untuk apa.

***

          Lihatlah gadis itu tergugu dengan isak, kini bulatan itu telah banjir. Tak terkendali. Isaknya amat kuat, saking kuatnya mampu menaik-turunkan bahu dan menyentak-nyentakkan badannya yg bertopang di ranjang tempat lelaki yg dipanggilnya Ayah itu terbaring tak berdaya.

          Terbaring tak berdaya..

          Sejak kejadian 3 bulan lalu, suara tawa yg khas tak pernah terdengar lagi. Badannya yg tinggi besar dengan perawakan yg gagah tak lagi mampu berdiri dengan kokoh, sorotan nanarkhas matanya yg tajam tak lagi pernah terlihat. Kini tubuh perkasa itu telah terbaring, seolah singa yg tengah terlelap. Terbaring tak berdaya..

          Isak gadis itu menghujam keras ke dalam hati Togar, isak itu seolah dapat dirasakannya. Lihatlah betapa rapuh gadis itu. Togar dapat merasakannya. Dari matanya, ia bisa menerawang apa yg dirasakan oleh gadis malang itu. Meskipun tak persis, ia juga tahu betapa pilu menghadapi kenyataan, rasa pilu yg memaksa diri menerima kenyataan yg walau tak diinginkan.

          Bagaimana tidak, ia juga pernah merasakan hal yg sama, bahkan lebih getir. Ia telah merasakan yg namanya kehilangan, kehilangan orang yg sampai kini masih meninggalkan jejak ‘rindu’ dirumahnya. Kehilangan seseorang yg sampai kini masih melukiskan kesepian di ruang hati ibunya. ‘Kehilangan’ yg merubah status mereka bersaudara menjadi anak YATIM.

***

          Langkahnya terhuyung, matanya menatap lurus kearah gadis itu. Satu langkah, dua langkah, setiap langkah kaki tak menggemingkan tatapannya kepada Luna. Lututnya lemas, kini ia membungkuk mendapati tubuh Luna yg pundaknya masih naik-turun karena isak. Diraihnya perlahan lengan gadis yg tertopang di ranjang itu hingga berbalik kearahnya dan kemudian memeluknya dengan erat.

          Mereka bersatu, rasa itu kini telah padu. Suara isak dan tetesan airmata yg membasahi pundaknya seolah berbicara banyak, bercerita kepadanya tentang semua yg dirasakan oleh gadis itu.

          Rasa itu telah padu, kini kesedihan itu tergambar jelas di benaknya. Ia juga rasa apa yg dirasakan oleh gadis itu.

          Pelukan itu semakin erat, jelas ini pelukan tulus, pelukan sayang, pelukan iba, pelukan haru. Togar tak pernah sedikitpun berfikiran untuk mengambil kesempatan dalam situasi itu, semua murni tulus.

‘Apakah yg mereka lakukan itu dosa ya Tuhan, apakah itu zina? Kau tahu tak ada rasa yg muncul selain haru saat mereka melakukannya, semua itu bukan atas dasar nafsu.
Apakah mereka berdosa ya Rab? Hanya kau yg tahu rahasia langit dan bumi, hanya kau yg paham atas segala perhitungan didalamnya. Maafkan kami yg bodoh ini, ampuni kami yg berilmu dangkal ini, yg masih awam tentang urusan pemahaman agama.. ampuni kami..’

          Kesedihan itu kini tumpah ruah bersama air mata Luna. Tak ada yg ditahan, tak ada yg disembunyikan dan tak ada yg tersisa. Ia percaya dengan pemilik pundak itu, dicurahkannya semua. Tak tersisa.

          Togar hanya diam tak bergeming, matanya seolah terkena percikan air asam. Getir. Perih, mengundang linang. Ditahannya perih itu, ia tak boleh menangis, ia tak boleh terlihat lemah dihadapan gadis itu. Tak boleh menangis..

          Tanpa isak cairan bening memenuhi kantong matanya, tanpa isak cairan itu luber menetes ke lantai, perlahan tapi pasti.Tanpa isak mata itu kini telah basah. Kini tangannya membalas pelukan gadis itu. Semakin erat. Semakin padu, ruangan itu seolah menjadi ‘saksi bisu’ atas padu perasaan dua insan yg sedang luluh di dalamnya.





***

POSTINGAN MENARIK LAINNYA

EDY SUTERA JAYA. Diberdayakan oleh Blogger.